Krisis Ekonomi South Sea Bubble


South Sea Bubble merupakan salah satu bubble terburuk sepanjang sejarah. Pada tahun 1700-an, Inggris Raya merupakan negara besar yang koloninya terdapat di seluruh penjuru dunia. Abad ke-18 merupakan zaman kemakmuran Inggris Raya. Mania ini dimulai pada tahun 1711 di mana pemerintah Inggris berutang sebesar 10 juta poundsterling. Untuk membiayai perang dengan Perancis, House of Lords mengeluarkan South Sea Bill yang memberikan izin monopoli kepada South Sea Company untuk melakukan perdagangan dengan Amerika Selatan. Izin ini merupakan imbalan dari pinjaman yang diterima oleh Inggris. South Sea Company menjadi penjamin emisi English National Debt senilai 30 juta poundsterling yang memberikan bunga sebesar 6% per tahun. Dengan diterbitkannya surat utang ini, pemerintah Inggris berkewajiban untuk membayar bunga sebesar 576,534 poundsterling per tahun kepada South Sea Company.

Untuk mendapatkan dana yang akan dipinjamkan ke pemerintah Inggris, South Sea Company juga menerbitkan saham yang juga digunakan untuk membiayai operasinya serta menarik para investor. Harga saham South Sea Company dalam sekejap meroket 10 kali lipat. Spekulasi terhadap saham ini menjadi sangat liar karena investor melihat prospek yang menjanjikan dengan adanya kepemilikan hak monopoli oleh perusahaan ini.

Pada tahun 1717, South Sea Company kembali mengeluarkan surat utang publik sebesar 2 juta poundsterling.

Bisnis utama dari South Sea Company adalah perdagangan budak. Mereka membeli budak dari Afrika Barat dan kemudian menjualnya ke Amerika Selatan. Hak monopoli perdagangan budak ini merupakan hasil dari perjanjian Utrecht pada tahun 1713 yang memberikan hak kepada Inggris untuk menjual budak ke negara-negara Amerika Selatan yang menjadi jajahan Spanyol.

Pada tahun 1719, perusahaan ini kembali mengajukan skema penawaran. Perusahaan ini akan membeli separuh dari utang nasional Inggris (£31 juta) yang pembayarannya dilakukan dengan menerbitkan saham baru. Praktek ini sering juga disebut dengan debt to equity swap. Perusahaan ini juga menjanjikan kepada pemerintah untuk menurunkan suku bunga yang telah dibelinya menjadi 5% sampai dengan 1727 dan 4% setelahnya. Total utang pemerintah Inggris pada saat itu (1719) adalah £50 juta dengan rincian sebagai berikut:

£18.3 juta dimiliki oleh 3 perusahaan besar:
1. £4.3 juta kepada Bank of England
2. £3.2 juta kepada British East India Company
3. £11.7 kepada South Sea Company

Utang lainnya adalah sebesar £31.5 juta.
Spekulasi Terhadap Saham South Sea Company

Untuk mendongkrak harga sahamnya, South Sea Company terus mengeluarkan rumor tentang bagaimana besar nilai perdagangannya di Amerika Selatan. Hal ini memicu terjadi spekulasi yang liar atas sahamnya. Harga sahamnya melonjak dari £128 pada bulan Januari 1720 menjadi £175 pada bulan Februari, £330 pada bulan Maret dan £550 pada bulan Mei saat skema penawaran debt to equity disetujui. Salah satu hal yang menyebabkan spekulasi ini terjadi adalah adanya dana kredit sebesar £70 juta yang diberikan oleh pemerintah dan parlemen untuk melakukan ekspansi usaha. Saham perusahaan “dijual” kepada para politisi. Saya memberikan tanda kutip pada kata dijual karena pada prakteknya para politisi tersebut tidak perlu membayar untuk memiliki saham tersebut. Mereka hanya menyimpan saham tersebut untuk kemudian dijual kembali ke perusahaan kapan saja mereka mau dan menikmati keuntungan dari selisih harganya. Tentu saja perusahaan membeli saham yang dijual oleh para politisi tersebut dengan menggunakan dana kredit yang telah diberikan oleh pemerintah. Jadi, di sini pemerintah lah yang menanggung semua kerugian.

Para politisi yang memiliki saham South Sea Company tentu saja berkepentingan untuk menaikkan harga sahamnya. Sementara itu, South Sea Company terus mempublikasikan orang-orang penting yang menjadi pemegang saham untuk memperkuat legitimasinya. Seperti sebuah lingkaran setan🙂

Dalam jangka waktu setahun harga saham South Sea Company telah melonjak tajam dari £100 menjadi £1,000. Demam ini kemudian menular ke seluruh pelosok negeri. Setiap orang ingin membeli saham South Sea Company. Harga saham mencapai puncaknya di £1,000 pada bulan Agustus 1720 dan mulai jatuh saat para investor mulai melakukan penjualan karena menyadari bahwa perusahaan tidak dapat menunjukkan kenaikan pendapatan seperti yang diharapkan. Lebih buruk lagi, berita mengenai aksi manajemen yang tidak bertanggung jawab ini dengan cepat menyebar dan mendorong harga saham semakin turun.

Pada akhir tahun 1720, harga saham South Sea Company anjlok dan kembali lagi ke level di awal tahun yaitu £100. Kejatuhan ini menyeret korban yang sangat banyak, terutama mereka yang membeli saham dengan kredit. Keadaan ini diperparah dengan adanya praktek short selling dengan harapan dapat membeli lagi sahamnya di harga yang lebih murah.

Sejak kejadian ini, penerbitan saham bagi publik dianggap melanggar hukum yang baru dicabut pada tahun 1825.

dari http://parahita.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: