RUMAH SAKIT TERAPUNG


KRI dr Soeharso, Rumah Sakit Terapung Satu-satunya di Asia Tenggara

Di antara sejumlah aset Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dianggap tidak memenuhi unsur kelayakan, masih ada segelintir “harta” yang bisa dibanggakan. Salah satunya adalah armada rumah sakit terapung KRI dr Soeharso. Bukan hanya desain yang canggih, kapal itu juga dilengkapi fasilitas medis mutakhir.

ZULHAM MUBARAK, Manado

Dengan dimensi panjang 122 meter dan bobot saat kosong 11.394 ton, KRI dr Soeharso terlihat menonjol di antara kapal-kapal nelayan yang melaut di sekitar Teluk Manado. Sudah hampir sepekan terakhir kapal yang juga disebut rumah sakit terapung tersebut parkir di Perairan Manado.

Hal itu dilakukan tak lain karena KRI yang memiliki fasilitas medis terapung lengkap tersebut menjadi tenaga medis cadangan selama World Ocean Conference (WOC) berlangsung di kota itu. Jawa Pos (induk Jambi Independent) pun berkesempatan mengintip ke dalam kapal tersebut.

Untuk bisa masuk ke dalam KRI dr Soeharso, semua orang harus menggunakan fasilitas speed boat dari darat. Kapal dengan daya angkut 11.300 ton dan berkecepatan maksimum 15 knot itu hanya bisa diparkir pada kedalaman lebih dari 15-20 meter. Setelah sampai di pintu masuk lambung kapal, pengunjung disuguhi fasilitas yang cukup istimewa karena kapal tersebut memiliki ciri khas berupa dockwell alias dok terapung.

Dua kapal kecil jenis LCU-23M diparkir dalam lambung seluas kurang dari 500 meter persegi itu. “Dok terapung ini memudahkan pasien ke dalam kapal dengan kapal kecil. Biasanya ruangan ini diisi penuh air untuk keperluan itu. Namun dalam keadaan normal ini dikeringkan,” jelas salah seorang teknisi, Serka Effendi Yuspriyatno, yang mengantarkan Jawa Pos berkeliling kapal.

Dari lambung kapal di lantai satu, tur pun berlanjut ke ruangan-ruangan di KRI tersebut. Rombongan pun langsung menuju tangga ke lantai atas. Namun seketika para kru menghentikan mereka. Ternyata untuk naik-turun di kapal lima lantai itu, rombongan bisa menggunakan lift. “Ini fasilitas yang tidak selalu ada di kapal-kapal perang,” ujarnya.

Para anggota tur merasa semakin nyaman ketika hendak naik-turun dan menjelajahi kapal yang terdiri atas lima lantai tersebut. Lantai dua kapal itu terdiri atas ruang-ruang yang merupakan bangsal dan kamar isolasi serta ruang untuk rapat kru dan kamar-kamar kru.

Lantai tiga terdiri atas fasilitas perawatan rumah sakit. Lantai empat dan lima merupakan kamar-kamar kru, ruang pertemuan, dan fasilitas operasional kapal. “Di atasnya lagi adalah ruang kemudi dan nakhoda. Tapi karena berada di dek paling atas, ruang itu tidak disebut lantai enam,” katanya.

Jawa Pos mengamati, lorong-lorong dan koridor dalam kapal tersebut terlihat sangat rapi dan bersih. Lantai serta tembok kapal terlihat mengilat layaknya sepatu yang baru disemir. Dalam kamar dan kabin-kabin utama, kasur serta meja terlihat ditata rapi.

Kondisi itu membuat kapal terasa sangat nyaman, walaupun lorong dan kamar terasa lebih sempit jika dibandingkan bangunan biasa. “Kami merawat kapal ini lebih baik daripada merawat diri kami sebab ketika kami melaut, kapal adalah aset utama untuk hidup,” celetuk salah seorang kru yang kebetulan melintas ketika Jawa Pos memperhatikan salah satu bagian kapal yang tampak mengilat.

Rombongan menghabiskan waktu paling lama di lantai tiga. Di sana seluruh kegiatan medis dipusatkan. Lantai tiga menjadi salah satu bagian vital kapal yang berfungsi sebagai rumah sakit terapung itu. Lorong-lorong dalam lantai tiga terdiri atas sekitar 40 ruangan kecil dilengkapi fasilitas kesehatan lengkap dan memiliki berbagai fungsi.

Komandan KRI dr Soeharso Letkol Laut H Yudho Warsomo menjelaskan, sebagai kapal rumah sakit, telah disediakan 1 ruang UGD, 3 ruang bedah, 6 ruang poliklinik, 14 ruang penunjang klinik, serta 2 ruang perawatan dengan kapasitas masing-masing 20 tempat tidur.

Otomatis kapal itu akan sangat berguna untuk operasi di daerah-daerah perang dan daerah yang membutuhkan medical support tingkat menengah. “Karena kondisi keamanan selalu stabil, kapal ini lebih banyak digunakan untuk keperluan bakti sosial,” ujar Effendi.

Jawa Pos melihat, ruang operasional dan sarana penunjang kesehatan dibuat sangat lengkap dengan fasilitas medis standar RS pada umumnya. Tiap ruang didesain layaknya ruang praktik dokter-dokter spesialis.

Dalam ruang poli gigi, terdapat sebuah kursi untuk perawatan dilengkapi rak yang berisi alat-alat operasi gigi dan lampu operasi. Di ruang poli mata juga ada fasilitas untuk operasi kecil serta pengobatan.

Sejumlah alat kelengkapan penunjang medis seperti rontgen dan alat ultrasonografi juga ada di ruangan lain. “Itu untuk keperluan kebidanan dan penanganan patah tulang,” kata Yudho.

Dia menjelaskan, RS terapung tersebut mampu melakukan berbagai aktivitas medis, baik pengobatan maupun praktik operasi besar. Dia lantas menceritakan, ketika melakukan misi Surya Bhaskara Jaya pada Desember 2008, tenaga medis dalam kapal itu sempat melakukan operasi pengangkatan tumor seberat 2,5 kilogram dari seorang pasien asal Nusa Tenggara Timur (NTT).

Operasi dilakukan di atas kapal plus rawat inap selama dalam perjalanan ke rumah sakit yang lebih besar di pulau utama NTT. “Banyak pasien kami yang terutama dari kalangan menengah ke bawah yang merupakan penduduk kepulauan terpencil. Jadi kami transport mereka ke rumah sakit yang lebih representatif,” jelasnya.

Kru dokter juga pernah menyelamatkan seorang ibu di Bengkulu saat melahirkan bayi melalui operasi. Hal itu cukup berkesan karena wanita yang diselamatkan tim dokter tersebut hamil dan diketahui memiliki janin dalam posisi sungsang.

Rapat pun dilakukan dengan saksama dan diputuskan melakukan operasi on board. “Waktu itu terjadi insiden bayi sungsang. Jadi kami turun langsung dan bisa menangani secara cepat tanggap. Dia pun dirawat sampai sembuh,” ungkap Yudho.

Kegiatan medis seperti itu sangat mungkin dilakukan dengan taktis di kapal tersebut sebab kapal itu memiliki 75 awak buah kapal (ABK) dan 65 staf medis yang stand-by setiap saat. Karena semua tenaga medis berada di kapal, tingkat kesiagaan dalam penanganan medis bisa sangat leluasa dilakukan. Bahkan bisa lebih efektif daripada rumah sakit biasa. Dalam keadaan darurat, sang dokter hanya perlu berpindah dari kabin ke kamar perawatan pasien. “Itu akan efektif di medan pertempuran,” ujar Yudho.

Berdasarkan data yang terpampang di salah satu dinding kabin kapal, secara keseluruhan kapal tersebut mampu menampung 40-100 pasien rawat inap. Jika dalam keadaan darurat, KRI dr Soeharso juga mampu menampung 400 personel dan sekitar tiga ribu penumpang.

Bukan hanya itu, kapal bisa berguna maksimal ketika terjadi serangan senjata kimia atau biologi di daratan. Evakuasi serta karantina bisa efektif dilakukan karena kapal bisa diisolasi di lautan.

Kapal tersebut memiliki fasilitas yang bisa digunakan untuk mengisolasi pasien dari penyakit yang bisa menular dan berpotensi menyebabkan pandemi seperti flu burung serta flu babi. “Kapal ini memiliki fasilitas tangkal radiasi dan bisa dimaksimalkan ketika terjadi keadaan darurat,” tegas Yudho.

Setelah berkeliling kapal, rombongan pun diterima di salah satu ballroom kapal. Yudho lantas menceritakan, kapal yang dibuat di Korea Selatan tersebut sebelumnya bernama KRI Tanjung Dalpele. Kapal itu tergabung sebagai unsur Satuan Kapal Amfibi (Satfib) Komando Armada RI Kawasan Timur.

Kapal tersebut tiba di Indonesia pada September 2003 dan beroperasi selama empat tahun sebagai kapal bantu angkut personel. Pada 17 September 2007, kapal itu berganti fungsi menjadi rumah sakit terapung dan berganti nama menjadi KRI dr Soeharso.
Dia menjelaskan, rumah sakit terapung KRI dr Soeharso juga memiliki dua helipad yang mampu menampung dua helikopter secara bersamaan, bahkan untuk helikopter sekelas Super Puma. Yudho menjelaskan, kapal itu juga dilengkapi fasilitas persenjataan, yakni meriam 57 milimeter serta dua unit senjata mitraliur.

Dalam fungsinya sebagai kapal angkut, kapal tersebut mampu mengangkut 14 truk atau tank dengan bobot per unit 8 ton, 3 helikopter tipe Super Puma, 2 landing craft unit (LCU) tipe 23 M, serta 1 hovercraft. “Tentu itu untuk pertahanan, bukan untuk menyerang, sebab kapal ini memang dibuat untuk misi damai,” tegas Yudho.(*)

DIUNDUH DARI jambiindependent online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: