Afrika akan Lebih Menderita Akibat Pemanasan Global


Suhu permukaan bumi meningkat sekitar 1 derajat Fahrenheit pada abad 20 – peningkatan tertinggi dalam 1.000 tahun, sesuai dengan data Intergovernmental Panel on Climate Change. Tahun 1998 telah tercatat sebagai tahun paling panas, dan tahun 2005 kemungkinan juga lebih panas. Pakar iklim mengatakan, trend pemanasan ini akan berlanjut selama karbon dioksida dari hasil pembakaran bahan bakar fosil dan gas lainnya tetap menghiasi atmosfir, menjerat panas seperti sebuah rumah kaca. Negara-negara Afrika sedikit menyumbangkan emisi namun harus siap menanggung penderitaan atas konsekuensi emisi global, kata peneliti. Pengurangan tutupan es sedang terjadi di puncak tertinggi Afrika, Gunung Kilimanjaro. Penggurunan sedang menyebar di baratlaut wilayah Sahel. Banjir dan peristiwa cuaca ekstrim menjadi lebih sering terjadi dan sangat mengganggu. Jumlah spesies flora dan fauna yang mengalami penurunan. Menteri Lingkungan Hidup Afrika Selatan Marthinus van Schalkwyk mengimbau AS dan negara lain yang menandatangani Protokol Kyoto, yang mendorong 35 negara industri maju, untuk mengurangi karbon dioksida dan emisi gas lainnya 5,2 persen mulai 1990 hingga 2012. Tapi meskipun negara-negara itu menghentikan polusi saat ini, para peneliti mengatakan bahwa dampaknya mulai terasa, sehingga mendorong African Development Bank memikirkan kemungkinan penanggulangan jangka panjang untuk bantuan eradikasi kemiskinan di seluruh kontinen. Sebanyak 770 juta penduduk Afrika- 63 persen- hidup di daerah pedesaan, dan sekitar 40 persen bertahan hidup dengan kurang dari satu dokar AS per hari. Kebanyakan dari mereka adalah para petani skala kecil. Kayu merupakan bahan bakar utama mereka, dan tumbuh-tumbuhan obat merupakan pertahanan mereka dalam melawan penyakit. Peningkatan suhu lebih panas menyebabkan jumlah penderita malaria di Afrika Selatan masih akan berbahaya hingga tahun 2020. Disamping itu, kondisi panas dan kering itu akan menyebabkan penurunan produksi jagung hinga 20 persen, dan berkembangnya hama penyakit. Dengan kondisi cuaca yang lebih tak menentu, penduduk hanya memiliki sedikit waktu untuk memulihkan dari satu bencana sebelum kemudian menghadapi serangan berikutnya. Pariwisata juga merupakan pendorong penting bagi pembangunan di sejumlah negara di Afrika, dengan mengandalkan kekayaan wisata alam. Namun beberapa spesies di Afrika Selatan seperti di Taman Nasional Kruger, misalnya, sudah musnah, kata Norman Owen-Smith dari University of the Witwatersrand. Beberapa yang sangat menanggung risiko antara lain jenis musang dan rusa, yang akan menderita oleh perubahan lingkungan alam mereka. Begitu suhu meningkat dan hujan turun tidak menentu, mereka dipaksa harus berpindah ke timur ke arah pantai yang lebih lembab, namun telah dibahalangi, kata Owen Smith. Terumbu karang Afrika Timur saat ini sudah menderita oleh berbagai peristiwa yang berkait dengan meningkatnya suhu air. dan cahaya.(bj)

DARI        http://www.geografiana.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: